Take Care April, Halo Mei…

Hari ini umur April sudah berlalu. Biarkan dia menjadi kenangan, dan jangan pernah kembali. Cukup jadikan dia pelajaran. –

               April tampak sibuk dengan kopernya. Alat make up, peralatan mandi, baju, novel, semuanya lengkap. Tidak ada yang tersisa di kamar lamanya. April membenarkan syalnya dan menebali bedak dan lipstiknya. Sedikit mengecap bibirnya, agar lipstiknya merata.

“Hei, Pril gimana? Udah siap?” Tanya Carra teman kontrakannya, mengintip dari balik jendela.

“Iye, uda. Tunggu aja di bawah, nanti aku susul.”merapikan rambutnya, dan menguncirnya. “Ra, bantuin bawa koperku dong, berat nih.” Kata April sambil mengeluarkan kopernya ke luar kamar.

“Iya, buruan make – up nya, takut ketinggalan kereta entar.”

“Beres.” April membawa tas ranselnya.

 

***

April memutuskan pergi dari Kota Malang. Bukan karena Malang sekarang menjadi macet, karena penduduk rantauan yang semakin padat. Dia meninggalkan Malang, karena toga yang ia dapat, kuliahnyapun usai, dan dia harus kembali ke Surabaya. Begitu juga, hubungannya dengan Bayu. Semuanya sudah usai, ketika dia menggandeng salah satu Mahasiswi di kampus.

“Sekarang, sudah main gandeng-gandengan ya, Bay.” April melemparkan buku yang dibawanya. “Kurang ajar, Bay. Maksud kamu apa, Bay! Kamu kira hubungan kita FTV!” April mengusap air matanya. Meninggalkan dia pergi, dan tidak mendengarkan alasannya, cara terbaik bagi April.

“Sayang, dengerin dulu. Aku jelasin dulu sayang.” April untuk saat ini sangat kesal. Hatinya bukan rapuh, tapi kuat. Melihat sosok buaya di depannya. Sekarang menjadi mantan kekasihnya. Cara dia meredam amara, salah satunya di toilet. Toilet kampus April terkenal nyaman, baginya. Bayu memang sosok yang terkenal keren, pakaiannya pun modis. Dia tidak pernah datang ke kampus dengan pakaian yang tidak bermerk. Bagi Bayu, jika dia datang dengan pakaian yang biasa saja, mending bolos kuliah. April paham sekali dengan cara berpakaiannya, sikap, cara bicara, bahkan cara berbohong pada orang pun, April sangat hafal. Kebohongan saat ini tertuju untuk April.

“Pril, pokoknya kalo kamu uda sampai, jangan lupa kabarin ya.” Carra mencium pipi April. April masih melihat sekeliling stasiun. Hatinya mengharapkan Bayu datang, dan menarik tangannya. Untuk mencegahnya kembali ke Surabaya. Namun sampai pengumuman keberangkatan pun, April tidak mencium bau kedatangan Bayu.

“Iya, Ra. Kamu jaga diri baik-baik di sini ya, oh ya, sampaikan salamku untuk temanku Ra.” April mengambil nafas. “ Bayu.”

“Ha, Bayu.” Mengernyitkan dahinya. “Gak salah Pril.” Carra tertawa kecil, menyindir April.

“Uda, ah, aku berangkat dulu ya Ra.”mengalihkan pembicaraan, April sembari meninggalkan Carra. Menghindar dari pertanyaan Carra.

 

***

Panataran, seat 19 A

               Enam gerbong kereta api, fasilitas oke, tapi penumpang cuma tiga anak-anak manusia. Aku, dia, dan dia. Seperti kereta pribadi. Pria bertubuh tinggi, berkacamata dengan bingkai merah. Lumayan tampan, tapi lebih tampan jersey Manchester United yang ia pakai. Seat 19 A ia duduki. Dengan keadaan dingin , sambil membaca novel yang ia bawa.

“Mas tiket.” Petugas Dalop delapan memanggilnya. Dengan membawa alat pelubang tiket. Pria MU masih asik dengan novelnya.”Mas, tiket, Mas.”Petugas kereta api menepuk bahunya.

“Oh, iya Pak,ini.”Mengeluarkan tiket dari kantong celananya. April masih sibuk memperhatikan pria itu.

April menyandarkan kepalanya di dinding kereta. Sesekali melirik pria itu. Dia pun melirik. Pria itu membalik halaman novel ke halaman belakang. Dan memperhatikan April lagi.

“Mbak Mei ya?”Pria itu menghampiri April ke bangku keretanya. Dan mengulurkan tangannya.

“Aku April.”April tersenyum.

“Ya, maksudku Aprilia Mei Larasati.”mengangkat novel di tangannya.”Ini, Take Care April, Selamat Datang Mei.”Menunjukkan judul novel.

“Hahaha, iya Mas, tapi panggil saya April saja.” Mengulurkan tangannya. Dan berjabat tangan. Pria itu pun menjabat tangan April.

“Okeh, boleh aku duduk di sini?”

“Ya, silahkan penumpang cukup sepi, jadi kemungkinan tidak ada penumpang yang duduk di sini.”

“Aku suka sekali baca novel-novelmu, tapi entah kenapa ya, aku sulit sekali menemukan akun media sosialmu, atau apalah gitu. Kau sengaja?”

“Hm,,,” April berdeham.”Cukup baca tulisanku saja, tidak perlu mengetahuiku terlalu dalam.”

“Mengapa?”Dia tampak serius.

“Oh, iya nama kamu siapa?”

“Aku Erliandra, cukup panggil Lian saja.” Lian membenarkan posisi duduknya, dia sedikit tidak nyaman.”Lalu, kenapa kaumenutup diri, alasanmu?”

“Tidak ada jawaban, sepertinya Stasiun Gubeng sudah dekat.” Lagi-lagi April mengalihkan pertanyaan Lian.

“Ya, it’s okey.”Lian tidak mencoba bertanya terlalu dalam.”Aku boleh memanggilmu Mei?”

“Terserah kamu, Tuan.”April tersenyum, sedikit memamerkan lesung di pipinya. Berdiri dan mengangkat barang-barangnya.”Cukup sampai di sini pertemuan kita, fancy to meet you.”

Kereta berhenti di Stasiun Gubeng, Surabaya. April keluar dari gerbong kereta terlebih dahulu. Mengetuk jendela Lian, dan mengangkat jempolnya. Lian tersenyum. Lian masih memperhatikan April dari dalam jendela kereta api. Kereta dari jalur dua, melintas sangat cepat. Tubuh April cepat terseret kereta.

Pertemuan pertama Lian dengan April, dan sekaligus pertemuan terakhir.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s