Terima kasih, Malam

Hei, kali ini kita berjumpa pada titik tempat yang berbeda dari kemarin. Mungkin kemarin kita hanya berjabat tangan, saling sapa, senyum, bahagia. Kali ini beda, iya, sangat beda. Dulu kita berjumpa tidak menemukan bau hujan, bahkan mengendus tanah yang basah pun tidak. Semalam, iya, sangat berbeda. Tiba-tiba aku mengendus bau tanah yang terkena air hujan, dingin pun datang. Aku bahagia sekali semalam, tapi kenapa langit menangis? Kau tidak mensetujuiku bertemu dengannya? Iya? Katakan padaku. Apa ini obat patah hati, aku bisa jatuh cinta (lagi). Hahaha hidup ini kenapa begitu lucu. Kadang, aku marah ketika aku sedang dihampiri pilu. Dan sekarang, aku tertawa terbahak-bahak karena jatuh cinta (lagi). Sampai menghampiri kakus pun, aku masih tertawa. Ini yang kusebut lucu. Kau datang tiba-tiba ketika aku tepat di titik sakit hati. Ketika aku menangis beberapa hari lamanya. Hah, iya, aku bodoh sekali ketika terjebak pada hati. Aku ingin mengakhiri semua permainan hati ini. Ya, aku harus berhenti jatuh cinta (lagi).

 

Saya, Aya

Terima kasih.

Bagaimana Kabar Adil?

Aku merasa, ketika aku bahagia, Tuhan bersikap adil padaku. Tapi, ketika aku tertimpa musibah, seakan-akan aku ingin murka.

Hari dimana aku bertemu denganmu, berkenalan denganmu, hanya senyum yang kuperlihatkan. Tidak ada, selain itu. Aku ingat sekali, kapan kita bertemu. Kita bertemu pada Jum’at 20 Juni, di suatu komunitas. Tanggal 3 Juli, kita bertemu lagi. Kau mengajakku makan di suatu tempat. Seperti gubuk, terlihatnya seperti itu. Tapi, nyatanya bukan. Tempatnya enak sekali, apa lagi ketika kita bercanda. Di balik hujan kita saling menatap. Bisa dibilang kita berbagi lesung pipi.

Pada 6 Juli, kau berencana menjemputku, dan mengantarku ke terminal. Pesan pada suatu malam, aku masih ingat kental kita esok akan bertemu, dan sebelum itu kau bilang rindu dengan suaraku. Hahaha, aku alay sekali, berlebih-lebihan, dan terlalu memujamu. Tapi, pada esoknya. Pada tanggal 6 Juli, kau menulis status di BBM ” Bismillah OTW”. Tapi, pada pukul 16:00 yang seharusnya kau sudah tiba di Surabaya, kau belum juga tiba. Aku diapit dua kemungkinan – Suudzon dan khawatir. Tapi, aku yakin kau bukan type pria pembohong, kau sendiri yang membuktikan. Aku baru dapat kabar pukul 23:00 dari salah satu kawanmu, kau kecelakaan dan gegar otak parah. Kau tahu? Bukan hanya kepalamu saja yang remuk, hatiku pun begitu. Terserah, kau percaya atau tidak. Aku langsung sesegera mungkin mengambil perjalan Malang-Surabaya untuk menemuimu, dan melihat kabarmu. Tragis, aku tidak boleh masuk ke ruang ICU. Aku terkejut, kau tertidur, dan dililit selang-selang biadab. Kenapa bukan aku yang di posisimu? Kenapa?

Matamu juga belum terbuka, aku terlalu bohong dengan suster rumah sakit. Aku mengaku tunanganmu, agar mereka memperbolehkanku masuk ke ruang ICU. Yah, kali ini aku berhasil. Aku hanya punya waktu dua menit untuk melihatmu, air mataku mulai deras. Melihatmu terbujur lemas, aku bersyukur, kau sudah bisa bergerak. Dua menitku habis. Aku terpaksa harus pulang, sebelum itu. Aku menyempatkan berbincang dengan kedua orang tuamu. Mereka begitu asyik menceritakan dirimu, kau konyol, kau banyak teman, tapi kenapa sekarang kau terbujur lemas? h a h a h a, aku menjadi pribadi yang sedikit berlebihan untuk kali ini.

Aku tidak mengharapkan kau ingat aku, atau kau masih rindu kepadaku setelah kau sehat nanti. Aku hanya ingin, kejadian ini tidak akan terulang, dan kau berjanji jangan meninggalkanku. Terima kasih, aku menyayangimu.

 

Aku Aya, terima kasih ^^