Hujan di Bulan Juni

sumber foto ; GOOGLE

sumber foto ; GOOGLE

 

Benar, kali ini indah. Ketika kumembuka tirai di kamarku. Bukan embun lagi, melainkan hujan. Deras, deras sekali. Sederas aku mengagumi kekasih temanku. Boleh aku mengaguminya? Sekadar mengagumi, tidak lebih, apa lagi terlibat dalam permainan hati. Aku tahu diri..

               Kemarin Kulihat Awan Membentuk Wajahmu

               Desah Angin Meniupkan NamamuTubuhku Terpaku

               SemalamBulan Sabit Melengkungkan Senyummu

               Tabur Bintang Serupa Kilau Auramu

               Akupun Sadari Kusegra Berlari

               Cepat Pulang Cepat Kembali Jangan Pergi Lagi

               Firasatku Ingin Kau Tuk Cepat Pulang Cepat Kembali Jangan Pergi Lagi… (Firasat-Marcell)

Sembari aku mendengarkan lagu dari Mas Marcell, ya memang sesuai dengan suasana hati. Aku sekarang termasuk orang yang munafik. Aku hina, maaf aku terlibat dalam cinta pria yang kukagumi. Ah, tapi dia sudah punya kekasih.

Duhai, pria yang kukagumi, kekasihmu cantik. Dia kawanku. Kuharap, jangan kausakiti.”

Aku suka sekali melihat foto-fotomu yang kauposting di media sosial. Aku sempat iri ketika kau memposting foto dengan gaya memegang tangan kekasihmu di puncak gunung. Bagiku itu romantis sekali, kulihat dalam foto itu, matamu ada cinta yang dalam dengan kekasihmu. Tatapanmu, begitu pun, dengan raut wajahku ketika melihat foto itu. Ada sakit, di setengah dadaku. Tapi, bibirku tersenyum, kawanku bahagia.

 

 

c a n t i k

“Foto siapa di display picturemu?”
“Teman.”
“Teman? Seromantis itu kah, kau memperlakukan temanmu.”
“Perlu dipermasalahkan?”
“Jelas,perlu.”
“Hanya masalah kecil, kau selalu mempermasalahkannya?Kita sudahi saja hubungan kita.”
“Kau ingin putus?”
“Iya.”

                Semudah itu perempun memutuskanku, ah dasar, lagi-lagi terjebak dengan suasana hati. Lyssa, kau cantik, aku pun tampan. Apa salahnya jika kita memperjuangkan hubungan kita? Kitapun cocok, bisa kita bicarakan semuanya dengan tenang. Apa pembaca bosan dengan ceritaku? Aku pun juga begitu, sangat bosan dengan cinta yang diekori dengan sad ending. Lyssa, Lyssa, pacarmu yang sekarang lebih baik dariku. Semoga kau selalu langgeng. Dia (pacar barumu)lebih cantik.

 

D E J A V U

Dear:    Masa Lalu

Di     :    Tempat

 

Terima kasih kau pernah hadir, dalam awal kehidupanku. Terima kasih kata-kata romantis, bunga, cokelat, boneka, tempat romantis, dan pengorbanan. Kata romantis kau berikan setiap pagi, siang, malam. Ucapan selamat makan pun tidak pernah telat. Aku tahu itu bentuk perhatianmu. Aku tidak pernah memakimu bahwa hubungan kita ini seperti anak labil pada umumnya. Kau berikan aku bunga dan cokelat di tempat keramaian, dimana tempat itu romantis bagi kita. Pengorbananmu ketika hujan kau memboncengku di bawah hujan. Pengorbananmu ketika kau menjemputku Ke Jogja yang sedang ingin menjadi brandal. Pengorbananmu sangat banyak. Aku juga masih ingat dengan tulisan tanganmu untuk kekasih masa depanku. Kau tidak mengizinkannya untuk menyakitiku yang pernah menyakitimu.

Tapi, mungkin Tuhan tidak memperbolehkan kita bersama. Pada suatu saat, kita berpisah pada hari bahagiamu, hari kelahiranmu. Kautahu? aku sekarang menjalani hubungan dengan siapa? Aku sekarang menjalin hubungan dengan seorang photographer. Dia tampan, aku merasa jika aku bersama dia, aku orang paling bego, jelek, murahan. Temanku pernah menasehatiku “Sudahlah, percaya saja, pasti kamu dapat yang terbaik. Gak mungkin Tuhan ngasih orang yang gak baik, untuk kamu” Ternyata sama saja, aku juga merasakan sakit seperti dulu.

Bolehkah aku hidup di masa laluku sekarang?

Damara

         Mantan yang selalu hadir dengan kenangan. Dia yang sok asik mengajak bbm-an. Sok iya sok tampan, sok iya sok menawan.

“PING!” Blackberryku bergetar. Langsung kulihat siapa pengirimnya. Hah?Damara? Sambil mengucek mataku yang tidak gatal. Dengan cepat aku membuka chatnya.

        “Aku kangen.” Apa? Pekikkku, seperti ada yang menyumbat tenggorakanku. Apa maksud wanita ini? Sinting, hadir dan pergi semaunya sendiri. Aku melihat gallery di blackberryku. Ada beberapa foto Damara yang masih kusimpan, beberapa tempat kenangan. Begitu juga dengan fotoku, dia, dan senja. Damara, mantan kekasihku, hampir lupa kapan kita pacarannya, apa lagi putusnya. Dengan cepat aku memijit keypad di handphone, dan membalasnya hanya dengan emoticon senyum.

 

***

Untuk  :   Damara Denara

Di       : Tempat yang paling mulia di sisi Tuhan

Maaf, untuk saat ini aku tidak bisa menemanimu pergi ke surga. Damara, maaf, aku terlalu memakan gengsi untuk membalas messagemu beberapa hari lalu. Aku pura-pura sudah lupa dengan semua kenangan, aku pura-pura tidak sayang. Damara asal kautahu setelah kita berpisah, belum ada yang mengisi kekosongan hati ini. Damara, terimakasih untuk senyum di wajahmu dan rona senja yang memerah, ketika aku mengungkapkan aku mencintaimu di Puncak Arjuna. Terima kasih atas segala jawaban.

 

Bima, mantan kekasihmu

 

***

               Tubuhku bersandar di dinding, Ibuku menangis sambil memelukku. Surat untuk Damara kuremas dengan tanganku hingga lusuh. Bayanganku kosong, hanya ada wajah Damara dipikiranku. Tubuhku semakin kering setelah kepergian Damara, karena kecelakaan kereta api. Ya, aku baru sadar pesan rindu yang ia kirimkan, itu pesan terakhir. Aku bodoh.

Aku melihat sekelilingku, teman-temanku mengekspresikan kebohongan mereka, ada yang sedih, ada yang tertawa sendiri. Mereka berpikir aku gila. Ya.. ha ha ha aku gila. Mereka mengurungku di sini. Aku merasa nyaman di sini, di rumah sakit jiwa. Damara, tersenyumlah di surga.

 

 

Terima Kasih

             Kita yang selalu diam-diam bercerita tentang hati kita.

“Kawan, apa kau pernah merasa hampa?”

“Ya, aku pernah. Bukan hanya pernah, tapi sering.”

“Aku pun sekarang mengalaminya, tapi aku bingung.”

“Bingung, kenapa?”

“Bingung, entah kemana hati ini tertuju. Apa kau pernah sakit hati, Kawan?”

“Pernah, bukan hanya pernah, tapi sering.”

“Apa kau pernah diselingkuhi, Kawan?”

“Ya, aku pernah. Bukan hanya pernah, tapi sering dan itu selalu terjadi dihadapanku.”

“Lantas, apa yang kaulakukan?”

“Aku diam, lalu aku mengucapkan kepadanya, terima kasih 🙂 “

Selamat Tidur, Tuan :)

        Untuk seseorang yang matanya sudah terpejam, nadinya tak berdenyut, malaikat sudah menjemput, dan tersenyum di balik kain putih 🙂

Bukan kata maaf, atau terima kasih yang pertama kuucapkan. Tapi, sama seperti biasanya aku tidak bosan mengungkapkan “Aku Mencintaimu, siapa pun kamu, di mana pun kamu, dan apa pun kamu”

Kau masih tidur? Ayo bangun, banyak teman-temanmu, dan banyak pesan yang masuk untukmu. Serius kautidak mau bangun? Aku berusaha menggoyak-goyakkan tubuhnya yang terbalut kain putih, hidungnya di tutup dengan kapas, matanya yang tertutup, dan terbaring di dalam peti. Aku mohon jangan bopong dia dulu, aku ingin berfoto dahulu dengannya, dan aku juga ingin ambil fotonya. Setelah kufoto akan kujadikan wallpaper di handphoneku. Seperti dia yang tidak bosan memajang fotoku di layar handphonenya. Kenapa kamu diam saja, ayok bergaya, Sayang. Kita dulu suka bergaya jika layar kamera didepan kita. Bergaya semanis mungkin, sampai sejelek mungkin pun pernah. Jadi, sekarang kau hanya tersenyum saja, di dalam petimu itu. Kau tidak mau bergaya jelek, seperti mukaku ini. Aku dari tadi sudah bergaya sedih, sayang. Pura-pura menangis, gaya manyun Sayang. Aku memeluk petinya, mengambil bunga, dan kutaburi tempat tidurnya.

“Hei, kalian kenapa diam saja. Aku tidak gila.” Bentakku pada orang-orang pengangkut jenazah.

Take Care April, Halo Mei…

Hari ini umur April sudah berlalu. Biarkan dia menjadi kenangan, dan jangan pernah kembali. Cukup jadikan dia pelajaran. –

               April tampak sibuk dengan kopernya. Alat make up, peralatan mandi, baju, novel, semuanya lengkap. Tidak ada yang tersisa di kamar lamanya. April membenarkan syalnya dan menebali bedak dan lipstiknya. Sedikit mengecap bibirnya, agar lipstiknya merata.

“Hei, Pril gimana? Udah siap?” Tanya Carra teman kontrakannya, mengintip dari balik jendela.

“Iye, uda. Tunggu aja di bawah, nanti aku susul.”merapikan rambutnya, dan menguncirnya. “Ra, bantuin bawa koperku dong, berat nih.” Kata April sambil mengeluarkan kopernya ke luar kamar.

“Iya, buruan make – up nya, takut ketinggalan kereta entar.”

“Beres.” April membawa tas ranselnya.

 

***

April memutuskan pergi dari Kota Malang. Bukan karena Malang sekarang menjadi macet, karena penduduk rantauan yang semakin padat. Dia meninggalkan Malang, karena toga yang ia dapat, kuliahnyapun usai, dan dia harus kembali ke Surabaya. Begitu juga, hubungannya dengan Bayu. Semuanya sudah usai, ketika dia menggandeng salah satu Mahasiswi di kampus.

“Sekarang, sudah main gandeng-gandengan ya, Bay.” April melemparkan buku yang dibawanya. “Kurang ajar, Bay. Maksud kamu apa, Bay! Kamu kira hubungan kita FTV!” April mengusap air matanya. Meninggalkan dia pergi, dan tidak mendengarkan alasannya, cara terbaik bagi April.

“Sayang, dengerin dulu. Aku jelasin dulu sayang.” April untuk saat ini sangat kesal. Hatinya bukan rapuh, tapi kuat. Melihat sosok buaya di depannya. Sekarang menjadi mantan kekasihnya. Cara dia meredam amara, salah satunya di toilet. Toilet kampus April terkenal nyaman, baginya. Bayu memang sosok yang terkenal keren, pakaiannya pun modis. Dia tidak pernah datang ke kampus dengan pakaian yang tidak bermerk. Bagi Bayu, jika dia datang dengan pakaian yang biasa saja, mending bolos kuliah. April paham sekali dengan cara berpakaiannya, sikap, cara bicara, bahkan cara berbohong pada orang pun, April sangat hafal. Kebohongan saat ini tertuju untuk April.

“Pril, pokoknya kalo kamu uda sampai, jangan lupa kabarin ya.” Carra mencium pipi April. April masih melihat sekeliling stasiun. Hatinya mengharapkan Bayu datang, dan menarik tangannya. Untuk mencegahnya kembali ke Surabaya. Namun sampai pengumuman keberangkatan pun, April tidak mencium bau kedatangan Bayu.

“Iya, Ra. Kamu jaga diri baik-baik di sini ya, oh ya, sampaikan salamku untuk temanku Ra.” April mengambil nafas. “ Bayu.”

“Ha, Bayu.” Mengernyitkan dahinya. “Gak salah Pril.” Carra tertawa kecil, menyindir April.

“Uda, ah, aku berangkat dulu ya Ra.”mengalihkan pembicaraan, April sembari meninggalkan Carra. Menghindar dari pertanyaan Carra.

 

***

Panataran, seat 19 A

               Enam gerbong kereta api, fasilitas oke, tapi penumpang cuma tiga anak-anak manusia. Aku, dia, dan dia. Seperti kereta pribadi. Pria bertubuh tinggi, berkacamata dengan bingkai merah. Lumayan tampan, tapi lebih tampan jersey Manchester United yang ia pakai. Seat 19 A ia duduki. Dengan keadaan dingin , sambil membaca novel yang ia bawa.

“Mas tiket.” Petugas Dalop delapan memanggilnya. Dengan membawa alat pelubang tiket. Pria MU masih asik dengan novelnya.”Mas, tiket, Mas.”Petugas kereta api menepuk bahunya.

“Oh, iya Pak,ini.”Mengeluarkan tiket dari kantong celananya. April masih sibuk memperhatikan pria itu.

April menyandarkan kepalanya di dinding kereta. Sesekali melirik pria itu. Dia pun melirik. Pria itu membalik halaman novel ke halaman belakang. Dan memperhatikan April lagi.

“Mbak Mei ya?”Pria itu menghampiri April ke bangku keretanya. Dan mengulurkan tangannya.

“Aku April.”April tersenyum.

“Ya, maksudku Aprilia Mei Larasati.”mengangkat novel di tangannya.”Ini, Take Care April, Selamat Datang Mei.”Menunjukkan judul novel.

“Hahaha, iya Mas, tapi panggil saya April saja.” Mengulurkan tangannya. Dan berjabat tangan. Pria itu pun menjabat tangan April.

“Okeh, boleh aku duduk di sini?”

“Ya, silahkan penumpang cukup sepi, jadi kemungkinan tidak ada penumpang yang duduk di sini.”

“Aku suka sekali baca novel-novelmu, tapi entah kenapa ya, aku sulit sekali menemukan akun media sosialmu, atau apalah gitu. Kau sengaja?”

“Hm,,,” April berdeham.”Cukup baca tulisanku saja, tidak perlu mengetahuiku terlalu dalam.”

“Mengapa?”Dia tampak serius.

“Oh, iya nama kamu siapa?”

“Aku Erliandra, cukup panggil Lian saja.” Lian membenarkan posisi duduknya, dia sedikit tidak nyaman.”Lalu, kenapa kaumenutup diri, alasanmu?”

“Tidak ada jawaban, sepertinya Stasiun Gubeng sudah dekat.” Lagi-lagi April mengalihkan pertanyaan Lian.

“Ya, it’s okey.”Lian tidak mencoba bertanya terlalu dalam.”Aku boleh memanggilmu Mei?”

“Terserah kamu, Tuan.”April tersenyum, sedikit memamerkan lesung di pipinya. Berdiri dan mengangkat barang-barangnya.”Cukup sampai di sini pertemuan kita, fancy to meet you.”

Kereta berhenti di Stasiun Gubeng, Surabaya. April keluar dari gerbong kereta terlebih dahulu. Mengetuk jendela Lian, dan mengangkat jempolnya. Lian tersenyum. Lian masih memperhatikan April dari dalam jendela kereta api. Kereta dari jalur dua, melintas sangat cepat. Tubuh April cepat terseret kereta.

Pertemuan pertama Lian dengan April, dan sekaligus pertemuan terakhir.