Rindu yang Sia-sia

Sudah lama saya tidak menggerakkan jari-jari saya untuk menulis di sini. Sebenarnya tidak tahu, harus dari mana menulisnya. Anggap saja cerita ini fiktif belaka. Iya, mungkin seperti itu.

Aku dan dia; waktu bergerak cepat sekali ya. Aku kira baru kemarin kalenderku menempati tanggal 9 Maret 2016, ternyata waktu itu sudah berlalu. Tanggal tersebut sudah 7 bulan yang lalu, 222 hari yang lalu lebih tepatnya. Semoga perhitunganku tidak salah. Karena aku memang merasa salah dalam segala hal, untuk saat ini.

Oya, kamu tahu ada rindu di sini. Tapi aku berusaha, tidak terlalu mendalam. Aku khawatir, semua itu tidak terbalas. Memang benar, dari buku yang kubaca dari M Aan Mansyur, yang bertajuk “Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi” waktu tidak akan mengobati luka. Tidak seperti kata orang-orang.

Banyak sekali hal yang kurindukan dari waktu itu; kamu yang takut kehilanganku, kamu yang takut aku menangis berlarut-larut, khawatir, sajak-sajak yang manis, tertawa tidak ada sebab, membicarakan hal-hal yang sepele, seperti; mengapa tukang nasgor menarik gerobaknya, kenapa bukan didorong?, kenapa gedung-gedung menjulang tinggi, kenapa tidak melebar, kenapa suatu jalan dinamai jalan pramuka, kenapa?.

Bicara tentang waktu tidak ada habisnya. Benar katamu, Jangan bahas yang dulu-dulu, termasuk yang manis. Ya, itu lebih baik, karena aku hanya dimakan dengan kata-kata.

 

Tabik,

Dari gadis yang kau gandeng tangannya di Kota Tua, dulu

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Kali Kedua

Kali Kedua – kalian sudah tahu, bukan, siapa penyanyi wanita ternama di Indonesia? Iya, Raissa. Saya beberapa hari yang lalu sempat mendengarkan album barunya, yang mana ada salah satu lagu yaitu, kali kedua. Bikin baper, iya. Entah kenapa ini seperti apa yang saya alami.

Pernah disia-siakan, kehilangan, kemudian datang kembali. Semoga sesuatu yang menyakitkan tidak datang untuk yang kesekian kalinya.Perlu kamu ketahui, memutuskan untuk memberi kesempatan kedua itu sulit, jangan disia-siakan, bagaimanapun itu. Ibaratkan hati ini seperti kebun, yang penuh bunga. Jika kebun tersebut kaurawat setiap hari, kau akan mendapatkan kebahagiaan, namun jika sebaliknya, maka kau tahu akibatnya. Bukan hanya kau yang sedih, akan layunya tanamanmu, namun bunga-bungamu pun mati –